Tuesday, August 19, 2008

aurat perempuan



Aurat Perempuan

Dari uraian terdahulu, kita tahu bahwa semua bagian tubuh yang tidak boleh dinampakkan, adalah aurat. Oleh karena itu dia harus menutupinya dan haram dibuka.

Aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain atau perempuan yang tidak seagama, yaitu seluruh badannya, kecuali muka dan dua tapak tangan. Demikian menurut pendapat yang kami anggap lebih kuat. Karena dibolehkannya membuka kedua anggota tersebut --seperti kata ar-Razi-- adalah karena ada suatu kepentingan untuk bekerja, mengambil dan memberi. Oleh karena itu orang perempuan diperintah untuk menutupi anggota yang tidak harus dibuka dan diberi rukhsah untuk membuka anggota yang biasa terbuka dan mengharuskan dibuka, justru syariat Islam adalah suatu syariat yang toleran.

Ar-Razi selanjutnya berkata: "Oleh karena membuka muka dan kedua tapak tangan itu hampir suatu keharusan, maka tidak salah kalau para ulama juga bersepakat, bahwa kedua anggota tersebut bukan aurat."

Adapun kaki, karena terbukanya itu bukan suatu keharusan, maka tidak salah juga kalau mereka itu berbeda pendapat (ikhtilaf), apakah dia itu termasuk aurat atau tidak?5

Sedang aurat orang perempuan dalam hubungannya dengan duabelas orang seperti yang disebut dalam ayat an-Nur itu, terbatas pada perhiasan (zinah) yang tidak tersembunyi, yaitu telinga, leher, rambut, dada, tangan dan betis. Menampakkan anggota-anggota ini kepada duabelas orang tersebut diperkenankan oleh Islam. Selain itu misalnya punggung, kemaluan dan paha tidak boleh diperlihatkan baik kepada perempuan atau laki-laki kecuali terhadap suami.

Pemahaman terhadap ayat ini lebih mendekati kepada kebenaran daripada pendapat sementara ulama yang mengatakan, bahwa aurat perempuan dalam hubungannya dengan mahram hanyalah antara pusar dan lutut. Begitu juga dalam hubungannya dengan sesama perempuan. Bahkan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut yang kiranya lebih mendekati kepada pendapat sebagian ulama, yaitu: "Bahwa aurat perempuan terhadap mahramnya ialah anggota yang tidak tampak ketika melayani. Sedang apa yang biasa tampak ketika bekerja di rumah, mahram-mahram itu boleh melihatnya."

Justru itu Allah memerintahkan kepada perempuan-perempuan mu'minah hendaknya mereka itu memakai jilbab ketika keluar rumah, supaya berbeda dengan perempuan-perempuan kafir dan perempuan-perempuan lacur. Untuk itu pula Allah perintahkan kepada Nabi-Nya supaya menyampaikan pengumuman Allah ini kepada ummatnya; yang berbunyi sebagai berikut:

"Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min semua hendaklah mereka menghulurkan jilbab-jilbab mereka atas (muka-muka) mereka. Yang demikian itu lebih mendekati mereka untuk dikenal supaya mereka tidak diganggu." (al-Ahzab: 59)

Jilbab, yaitu pakaian yang lebarnya semacam baju kurung untuk dipakai perempuan guna menutupi badannya.

Sebagian perempuan jahiliah apabila keluar rumah, mereka menampakkan sebagian kecantikannya, misalnya dada, leher dan rambut, sehingga mereka ini diganggu oleh laki-laki fasik dan yang suka iseng, kemudian turunlah ayat di atas yang memerintahkan kepada orang-orang perempuan mu'minah untuk menghulurkan jilbabnya itu sehingga sedikitpun bagian-bagian tubuhnya yang biasa membawa fitnah itu tidak tampak. Dengan demikian secara lahiriah mereka itu dikenal sebagai wanita yang terpelihara (afifah) yang tidak mungkin diganggu oleh orang-orang yang suka iseng atau orang-orang munafik.

Jadi jelasnya, bahwa ayat tersebut memberikan illah (alasan) perintahnya itu karena kawatir perempuan-perempuan muslimah itu diganggu oleh orang-orang fasik dan menjadi perhatian orang-orang yang suka iseng. Bukan ketakutan yang timbul dari perempuan itu sendiri atau karena tidak percaya kepada mereka, sebagaimana anggapan sementara orang, sebab perempuan yang suka menampakkan perhiasannya, yang berjalan dengan penuh bergaya (in action) dan bicaranya dibuat-buat, sering membuat perhatian orang laki-laki dan membikin sasaran orang-orang yang suka iseng.

Ini cocok dengan firman Allah yang mengatakan:

"Janganlah perempuan-perempuan itu berlaku lemah dengan perkataannya, sebab akan menaruh harapan orang yang dalam hatinya ada penyakit." (al-Ahzab: 32)

Islam memperkeras persoalan menutup aurat dan menjaga perempuan muslimah. Hanya sedikit sekali perempuan diberinya rukhsah (keringanan), misalnya perempuan-perempuan yang sudah tua.

Firman Allah:

"Dan perempuan-perempuan yang sudah putus haidhnya dan tidak ada harapan untuk kawin lagi, maka tidak berdosa baginya untuk melepas pakaiannya, asalkan tidak menampak-nampakkan perhiasannya. Tetapi kalau mereka menjaga diri akan lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (an-Nur: 60)

Yang dimaksud al-qawa'id (perempuan-perempuan yang duduk), yaitu perempuan-perempuan yang sudah tidak haidh dan tidak beranak lagi karena sudah tua. Justru itu mereka sudah tidak ada keinginan untuk kawin dan sudah tidak suka kepada laki-laki, begitu juga laki-laki itu sendiri sudah tidak suka kepada mereka.

Untuk mereka ini, Allah memberikan kelonggaran dan tidak menganggap suatu perbuatan dosa, jika mereka itu menanggalkan sebagian pakaian luar yang biasa tampak, seperti baju kurung, kebaya, kudung dan sebagainya.

Al-Quran memberikan batas rukhsah ini dengan kata: tidak menampak-nampakkan perhiasannya, yakni tidak bermaksud menanggalkan pakaiannya itu untuk menunjuk-nunjukkan. Akan tetapi kelonggaran ini diberikan jika memang mereka itu memerlukan.

Berdasar rukhsah ini, maka kiranya yang lebih afdhal dan lebih baik hendaknya mereka tetap menjaga diri dengan selalu mengenakan pakaian-pakaian tersebut, untuk mencari kesempurnaan dan supaya terhindar dari segala syubhat. Karena itu Allah mengatakan dan kalau mereka itu menjaga diri adalah lebih baik bagi mereka.

Monday, August 18, 2008

Istiazah elak gangguan syaitan

“OLEH itu apabila engkau membaca al-Quran, maka hen daklah engkau memohon perlindungan kepada Allah dari hasutan syaitan yang kena rejam. Sesungguhnya syaitan itu tidak mempunyai sebarang pengaruh terhadap orang yang beriman dan yang berserah bulat-bulat kepada Tuhan me reka.” (an-Nahl:98-99)

Ibnu Qayyim ada menerangkan mengenai hikmah membaca istiazah, iaitu memohon perlindungan kepada Allah daripada gangguan syaitan ketika membaca al-Quran.

  • Sesungguhnya al-Quran itu adalah ubat bagi hati, dapat menghilangkan sebarang benda yang merosakkan. Justeru, terlebih dulu diperintahkan untuk menghalau kuman pe nyakit itu daripada hati agar ubat dapat memasuki tempat yang kosong sehingga dapat memberikan kesan.

  • Al-Quran adalah petunjuk, ilmu dan kebaikan di dalam hati, sebagaimana air bahan makanan bagi tumbuhan. Syaitan adalah api, membakar tumbuhan sedikit demi sedikit. Justeru, apabila ia merasakan ada kebaikan tumbuh di dalam hati, ia berusaha untuk merosakkan dan membakarnya.

    Oleh itu, manusia diperintahkan agar memohon per lindungan kepada Allah supaya syaitan tidak dapat me rosakkan benih kebaikan yang tumbuh di dalam hati, di hasilkan oleh al-Quran itu.

  • Sesungguhnya malaikat suka menghampiri orang mem baca al-Quran dan mendengarkan bacaannya. Diceritakan dalam satu hadis berkenaan dengan peristiwa Usaid bin Hudair ketika dia membaca al-Quran, tiba-tiba terlihat suatu benda seperti payung (di langit) yang di dalamnya terdapat lampu. Rasulullah s.a.w memberitahunya itu adalah malaikat yang mendengar bacaannya.

    Syaitan adalah musuh malaikat. Oleh itu, pembaca al-Quran diperintahkan agar memohon kepada Allah supaya musuh malaikat itu dijauhkan daripadanya sehingga malaikat khas hadir di situ. Dalam keadaan seperti ini, malaikat dan syaitan tidak berkumpul.

  • Syaitan mengerahkan tentera berkuda dan pejalan kaki untuk mengganggu orang yang membaca al-Quran agar perhatiannya tidak tertumpu pada maksud al-Quran, men tadabbur, memahaminya serta lalai daripada apa yang di maksudkan Allah di dalam al-Quran.

    Syaitan berusaha bersungguh-sungguh membina dinding di antara hati pembaca dan al-Quran. Dengan demikian dia tidak mendapat faedah (yang sempurna) daripada bacaanya. Oleh itu, disyariatkan agar memohon perlindungan kepada Allah daripada godaan syaitan terkutuk ketika membaca al-Quran.

  • Sesungguhnya orang yang membaca al-Quran bermunajat kepada Allah dengan kalam-Nya. Allah lebih dekat terhadap pembaca al-Quran bersuara baik. Bacaan syaitan hanya syair dan nyanyian. Pembaca al-Quran hendaklah menghalau syaitan dengan membaca istiazah ketika bermunajat kepada Allah.

  • Allah menjelaskan yang Dia tidak mengutus rasul atau nabi melainkan apabila ia bercita-cita, syaitan ikut masuk campur dalam cita-citanya. Ulama salaf (dulu) mengatakan apabila rasul itu membaca, syaitan mencampakkan sesuatu gangguan ke dalam bacaannya. Jika perkara seperti ini boleh berlaku pada diri rasul atau nabi, bagaimana dengan orang lain?

  • di petik dari metro......bahagian ad-din

    DCL

    pengasas

    De Classic Life (DCL) diterajui oleh Pengasas yang merupakan sepasang suami isteri yang berpengalaman sebagai pengedar, pihak pengurusan syarikat MLM, jurulatih MLM, Motivator dan perunding MLM dan juga berpengalaman dalam perniagaan konvensional.


    Pengasas 1 ~ En. Stapa Hj Omar


    Peneraju utama sebagai Executive Chairman dan juga pengarah jurulatih dan pemasaran. Terlibat secara langsung sebagai jurulatih dan motivator syarikat serta bertanggungjawab merangka pelan tindakan dan strategi pemasaran

    Pengasas II ~ Pn Azlina bt Che Abdullah

    Pengarah kewangan dan ketua jurulatih kecantikan. Beliau berpengalaman luas di dalam bidang kecantikan dan mempunyai rangkaian perniagan berasaskan kecantikan.

    Duta DCL ~ Arash Mohd


    Info Ringkas mengenai Syarikat DCL (De Classic Life)

    * 100% dimiliki oleh Bumiputera dan produknya dijamin Halal.

    * DCL kini telah beroperasi sejak 1998 sehingga kini. DCL juga berjaya melepasi ranjau semasa kegawatan ekonomi negara dan dunia.

    * DCL sentiasa memegang prinsip kerja berpasukan dan pihak pengurusan juga mengamalkan sentiasa turun padang. Komitmen total berterusan bagi menjana kejayaan kumpulan.

    * Pelan pemasaran DCL memberi pendapatan yang lumayan kepada pemimpin atasan yang bekerja keras dengan pencapaian networking yang besar dan mampu memperolehi bonus yang wajar tanpa mengabaikan pengedar bawahan.

    * Pelan pemasaran DCL juga mempunyai ciri-ciri sistem Roll Up, Compress, Pass Up dan bonus berdasarkan jualan syarikat dan terbukti keadilan kepada pengedar.

    * DCL mempunyai jabatan latihan sendiri yang diketuai oleh Pengasas yang sentiasa memberi komitmen total dan sistematik kepada pengedar. Latihan yang sistematik dikendalikan oleh tenaga profesional dan berpengalaman sentiasa diberikan kepada pengedar dari masa ke semasa.

    * Produk eksklusif, berkualiti dan bertaraf dunia yang berasaskan R&D oleh saintis/pakar mampu membawa syarikat bertahan di dalam industri MLM global.



    OBJEKTIF

    * Membina ekonomi ummah berdikari.

    * Membina kesihatan & kecantikan secara semula jadi.

    * Menyediakan peluang perniagaan yang lebih baik serta lebih mudah untuk lebih sukses.

    * Memperjuang & mengangkat martabat industri MLM yang tulen dan beretika.



    VISI

    * Membina pasaran global.

    * Membina pengedar / usahawan supaya mencapai kemerdekaan kewangan.

    * Menjadi pengeluar dan pengedar produk alternatif yang memberikan sumbangan besar terhadap masalah kesihatan dan kecantikan sejagat, tanpa memberi risiko atau tanpa kesan sampingan terhadap pengguna dan dengan harga yang berpatutan.



    MISI

    * Mewujudkan pelan pemasaran yang unik, mudah dan menguntungkan.

    * Menghasilkan produk alternatif berkualiti, berbeza daripada pesaing-pesaing.

    * Komitmen pemasaran yang tinggi (efektif servis) terhadap pengedar- pengedar dan memberi latihan yang sistematik bagi mencapai objektif syarikat.

    * Membina pengedar-pengedar yang mempunyai daya kepimpinan yang tinggi dan mampu bersaing di pasaran global.


    untuk keterangan lanjut hubungi hasrikh = 012-2447778

    wuduk..solat..hapuskan dosa..



    BNU Abbas meriwayatkan, ketika Saidina Ali mengadu kepada Rasulullah s.a.w mengenai hafalan al-Qurannya yang semakin hilang daripada dadanya, baginda mengarahkan Ali mengerjakan solat empat rakaat, seterusnya mengucapkan alhamdulillah serta memuji-Nya, berselawat ke atas baginda dan seluruh nabi, memohon keampunan untuk semua orang beriman lelaki dan wanita dan akhir sekali berdoa kepada Allah.

    Uthman bin Hunaif menceritakan kisah seorang lelaki buta datang bertemu Rasulullah s.a.w, katanya: “Wahai Rasulullah! Tolonglah berdoa untukku agar dikembalikan penglihatan mataku ini.”

    Jawab baginda: “Kalau engkau mahu, aku boleh doakan agar sembuh dan kalau kau mahu, engkau bersabar dan aku tidak perlu doakan, yang ini lebih baik bagimu (bersabar).”

    Kata lelaki itu lagi: “Wahai Rasulullah! Doakanlah wahai Rasulullah.”

    Sabda baginda: “Kalau begitu pergilah berwuduk, kemudian kerjakanlah solat dua rakaat. Seterusnya berdoalah, wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan berkat Nabi-Mu Muhammad s.a.w, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad! Aku menghadap kepada Tuhanku dengan harapan Dia akan menunaikan permintaanku. Wahai Tuhanku, berilah syafaat kepadanya untuk diriku.”

    Kemudian, beliau kembali ke rumahnya dalam keadaan penglihatannya sudah pulih seperti biasa.

    Sebenarnya, solat fardu juga boleh menjadi penyebab kepada pengampunan dosa dan penerimaan doa. Abu Umamah r.a meriwayatkan, seorang lelaki datang berjumpa Nabi s.a.w, lalu meminta baginda menjatuhkan hukuman ke atas dosa yang dilakukannya.

    Nabi s.a.w hanya mendiamkan diri. Hamba Allah ini memberitahu Nabi s.a.w sebanyak tiga kali. Akhirnya Nabi s.a.w bersabda, maksudnya: “Bukankah kamu sudah menyempurnakan wudukmu kemudian bersolat berjemaah bersama kami? Sesungguhnya Allah sudah mengampunkan dosamu.”

    Hadis ini menunjukkan keampunan boleh berlaku dengan dua cara, iaitu berwuduk dan solat. Kelebihan berwuduk ialah menggugurkan dosa kecil yang dilakukan oleh anggota wuduk.

    Justeru, selepas berwuduk, seseorang itu lebih hampir kepada Allah. Seterusnya wuduk itu pula diikuti dengan ibadat yang besar dalam Islam iaitu solat.

    Solat mengandungi pelbagai unsur doa kerana solat itu sendiri bererti doa. Seorang yang mengerjakan solat, sedang bermunajat dengan Tuhannya.

    Orang yang mengerjakan solat juga menyatakan ikrar yang agung seperti terkandung dalam surah al-Fatihah, bermaksud: “Hanya kepada Engkau kami abdikan diri dan hanya Engkau kami mohon pertolongan.”

    Selepas berwuduk dan mengerjakan solat, seseorang itu berada dalam keadaan amat hampir kepada Allah. Justeru, itulah waktu terbaik untuk memohon kepada Allah.

    artikel dari..metro..

    Saturday, August 16, 2008

    Islam tidak membebankan...

    Islam tidak membebankan

    FIRMAN Allah SWT: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat seksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): " Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

    Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Berilah kemaafan kepada kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (al-Baqarah: 286)

    SAYYID Qutub berkata: “Inilah ayat-ayat penamat surah yang besar ini, iaitu ia besar dengan saiz pengungkapannya kerana ia merupakan surah al-Quran yang paling panjang, juga besar dengan maudhu’-maudhu’nya yang merupakan bahagian pembicaraan yang amat besar.”

    Ia meliputi asas-asas kefahaman keimanan, ciri-ciri kelompok muslimin, sistem hidup mereka, tugas-tugas mereka, sikap dan peranan mereka di alam al-wujud ini, sikap dan tabiat musuh-musuh yang menentang mereka, cara musuh-musuh mereka memerangi mereka dan cara mereka menghindari bahaya musuh mereka di satu aspek dan mengelak dari nasib kesudahan mereka yang malang di satu aspek yang lain.

    Di samping itu, surah ini juga menjelaskan tabiat peranan manusia di bumi ini. Sifat-sifat fitrahnya dan faktor-faktor yang menggelincirkan langkah-langkah mereka yang digambarkan di dalam sejarah umat manusia dan kisah-kisahnya yang berlaku di dalam realiti dan sebagainya dari huraian-huraian yang telah disebut sebelum ini semasa mempelajari nas-nasnya yang panjang itu.

    Firman Allah SWT: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

    Al-Maraghi berkata : “Allah SWT tidak membebankan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak mampu mereka kerjakan. Bahkan sifat kemurahan-Nya memberikan kemudahan kepada mereka.

    “Inilah khabar gembira daripada Allah SWT setelah mereka menerima beban kewajipan daripada-Nya dengan rasa taat dan penuh penerimaan, berkat kurnia dan kemurahan Allah SWT kepada mereka. Mereka diberikan beban yang mampu mereka kerjakan bahkan tidak sukar untuk melaksanakannya.”

    Pada ayat ini juga mengandungi khabar gembira dengan pemberian ampun yang telah mereka minta, lantaran kekurangan-kekurangan yang ada pada diri mereka. Ia turut meringankan beban kesulitan dan kekurangan yang mungkin timbul dari pemahaman mereka terhadap firman Allah SWT sebelum itu.

    Firman Allah SWT : Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami”.

    Al-Maraghi berkata: “Ayat ini menggalakkan manusia melakukan perbuatan baik dan melaksanakan kewajipan-kewajipan agama. Ini disebabkan membatasi hasil perbuatan baik terhadap pelakunya, termasuk pendorong yang terkuat untuk turut bergerak melakukan kebaikan.

    “Akan tetapi sebaliknya ia mengingatkan manusia agar jangan menangguhkan kebaikan kerana kerugiannya akan menimpa diri mereka sendiri, bukan kepada orang lain. Membatasi kerugian perbuatan buruk terhadap pelakunya, termasuk cara pencegahan terkuat agar seseorang tidak melakukannya.”

    Sesudah Allah SWT menerangkan keadaan orang beriman yang mendengar dan mentaati-Nya serta menyuruh mereka meminta ampun kerana kekurangan-kekurangan yang ada pada diri mereka, dan selepas menyebut kurnia-Nya kepada hamba-hamba-Nya, yang mana hal itu tidak dibebani sehingga ia di luar kemampuan mereka, lalu Allah SWT mengajar mereka cara-cara berdoa.

    Firman Allah SWT: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Berilah kemaafan kepada kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

    Sayid Qutb berkata: “Inilah penamat surah yang besar yang terkumpul di dalam dua ayat yang menjadi intisari yang sempurna kepada bahagian-bahagian mauduk yang terbesar yang wajar dijadikan sebagai penamatnya, iaitu penamat yang selaras dengan mauduk-mauduk surah, selaras dengan suasana dan matlamat-matlamatnya.

    Muhammad Quraish Syihab dalam tafsirnya berkata: “Akhirnya orang-orang mukmin itu menutup doa mereka dengan bermohon: Maafkanlah kami, yakni hapuskan dosa-dosa kami, lindungi kami, yakni tutupkan aib kami dengan tidak menghukum kami akibat kesilapan, dan rahmati kami dengan bermacam rahmat melebihi penghapusan dosa dan penutupan aib. Engkau adalah Pelindung kami, kerana itu menangkan kami dengan kritikan dan kekuatan fizik menghadapi orang-orang kafir.”

    Kalau anda perhatikan pada ayat di atas, termasuk terjemahannya, anda temukan bahawa permohonan yang dipanjatkan oleh orang-orang beriman, mereka pohonkan sambil menyebut nama Allah SWT dengan menyebut: Rabbana dan tanpa menggunakan kata: ‘ya atau wahai' sebagaimana sering dinyatakan dalam terjemahan-terjemahan dalam bahasa-bahasa Indonesia.

    Ketiadaan ‘ya atau wahai' yang digunakan untuk menyeru yang jauh, menunjukkan kedekatan mereka pada Allah SWT, dan bahawa kedekatan itu diakui oleh-Nya sehingga diabadikan dalam kitab suci. Menurut pengamatan al-Harrali, dalam al-Quran tidak dijumpai dalam satu ayat pun yang menggunakan panggilan jauh kepada Allah SWT dalam ucapan orang-orang mukmin.

    Demikianlah, kedua ayat ini menutup surah al-Baqarah, memberi kesimpulan tentang kandungannya, sekali gus menggambarkan sikap orang-orang yang beriman kepada Allah SWT.



    ~dipetik daripada..utusan melayu dalam artikal bicara agama.moga-moga mendapat renungan nya,,~

    renungan kita....

    Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki) :

    Imam Ghazali = " Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
    Murid 1 = " Orang tua "
    Murid 2 = " Guru "
    Murid 3 = " Teman "
    Murid 4 = " Kaum kerabat "
    Imam Ghazali = " Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

    Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?"
    Murid 1 = " Negeri Cina "
    Murid 2 = " Bulan "
    Murid 3 = " Matahari "
    Murid 4 = " Bintang-bintang "
    Iman Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama".

    Iman Ghazali = " Apa yang paling besar didunia ini ?"
    Murid 1 = " Gunung "
    Murid 2 = " Matahari "
    Murid 3 = " Bumi "
    Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."

    IMAM GHAZALI" Apa yang paling berat didunia? "
    Murid 1 = " Baja "
    Murid 2 = " Besi "
    Murid 3 = " Gajah "
    Imam Ghazali = " Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.


    dipetik dan diperolehi dari sahabat di myspace...

    Friday, August 15, 2008

    bile aku boleh kata kan pahitnya...di situ...

    YA Alllah jauh kan diri hambamu ini dari sifat kurang sabar...sifat membalas dendam...malah jauh kan la aku menitiskan air mata pada perkara yang sia-sia..tetapkan iman ku hanya pada-Mu...
    jauhkanla perkara yang dapat membuka aibku...hanya padaMU ku memohon..
    itu adalah ayat yang terpacul keluar dari mulut aku...
    tidak tahu mana silapnya...susah bagi aku menerimanya...tapi aku ini siapa untuk menghukum mereka...sedangkan aku sendiri mempunyai kesalahan yang belum tentu lagi boleh di terima taubatnya...atau apa yang berlaku hari ini adalah sebab kesalahan yang mungkin belum tentu di maafkan oleh Allah, lalu di kenakan hukuman dunia pada ku...
    aku tidak boleh menahan air mata mungkin sebab aku malu..atau aku sedang menahan marah..
    aku tahu aku silap..tidak belajar betul-betul malah ini bukan pertama kali aku mengambil subjek berkenaan..tapi kadang-kadang minda aku terfikir..adakah aku patut di hukum sebegitu di hadapan pelajar lain...
    gela tawa sindiran dari orang lain...membuatkan aku terdiam..tertunduk..bukan orang lain yang mentertawakan..tetapi aku di perlakukan di depan 60 orang pelajar yang mejoriti nya adalah pelajar junior..
    kalau ikutkan rasa binasa..ikut hati mati...ikut rasa marah...aku boleh jadi orang yang kurang sabar..aku biarkan keadaan itu...walaupun kata pedih pensyarah aku masih melekat di gendang telinga aku..."pasni awak boleh duduk relax.. dengan markah macam ini awak boleh tidak datang kelas"..hurmm aku tahu markah aku rendah serendah nya,..tapi bukan aku ingin mempertikaikan tindakannya..tapi cara perbuatannya..menunjukkan aku di layan seperti aku ini seorang pelajar sekolah..bukan minta di adili..cuma aku...ingin aku di layan dengan penuh rasa hormat seperti aku pelajar universiti..talk one by one..kalau boleh tanya segala masalah aku sampai aku memperoleh markah seperti itu..
    jika aku buat begitu atas sebab aku malas..rasa nya aku ada cukup bukti untuk tunjukkan yang aku buat nota berkenaan dengan tajuk itu...tapi apekan daya
    kata-kata rizal betul buat aku sedikit bertenang.."takpe fira sabar la...die tak tahu prinsip kita..."
    tapi aku menjawab semula..."aku tak nak hilang hormat ngan dia...tegur la aku ngan cara bijaksana andai aku lalai..bukannya dengan keadaan yang amat memalukan"
    memang aku mengambil dari sudut positifnya...tapi apa daya..aku hanya manusia biasa...aku betul-betul memerlukan masa...hendak kata kan tergurisnya hati aku ini hanya Allah sahaja yang tahu..dan aku mengucapkan syukur mungkin ini adalah jalan terbaik untuk aku berubah dan setiap antaranya mempunyai hikmah yang tidak ternilai harganya..

    terima kasih lect atas layanan itu...terima kasih...

    Thursday, August 14, 2008

    ptptn

    hurm...satu langkah bijak kerajaan dalam menilai semula peratus kadar caj yang di kena kan kepada pelajar yang mengambil pinjaman ptptn...

    hurmm sebaiknya tidak membebankan mereka untuk membayar semula...

    tapi....perlu di ingatkan pada pelajar....jangan la mengambil peluang atas penurunan caj itu untuk kita lupa...ape yang patut kita lakukan di kampus....atau untuk belajar....

    hurmm guna kan la duit tuh sebaik nya...

    n jangan pikir bile caj dah turun....aku boleh belajar main2...belum tentu lagi pas abes balaja kita akan dapat pekerjaan...pape pown focus la pada stdy insya-Allah...kita akan berjaya....

    Caj PTPTN 1 peratus - Kadar baru berkuat kuasa 1 Jun lalu ringankan beban sejuta pelajar

    PUTRAJAYA 13 Ogos – Kerajaan hari ini mengumumkan penurunan kadar caj Perbadanan Tabung Pendidikan Tinggi Nasional (PTPTN) kepada satu peratus berkuat kuasa 1 Jun lalu – satu langkah yang menggembirakan lebih 1.04 juta peminjam PTPTN yang kini akan membuat bayaran balik yang lebih rendah.

    Sebelum ini, caj perkhidmatan pinjaman PTPTN adalah tiga peratus bagi pelajar peringkat diploma dan ijazah sarjana muda manakala peminjam pembiayaan peringkat sarjana dan ijazah kedoktoran dikenakan caj sebanyak lima peratus.

    Menteri Pengajian Tinggi, Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin berkata, langkah PTPTN tersebut dijangka mampu meningkatkan semula jumlah kutipan pinjaman perbadanan itu berbanding sebelum ini.

    Menurut beliau, keputusan menurunkan kadar caj perkhidmatan itu dipersetujui oleh Jemaah Menteri minggu lalu dan Majlis Fatwa Kebangsaan juga mengesahkan ia tidak bertentangan dengan syariah.

    “Kadar baru caj satu peratus itu adalah berdasarkan kadar rata ke atas semua pinjaman peringkat pengajian melibatkan semua bakal peminjam yang akan diproses melalui sistem baru bermula Disember ini.

    “Ia juga meliputi peminjam sedia ada dan peminjam yang telah tamat belajar tetapi belum menyelesaikan bayaran pinjaman mereka,” kata Mohamed Khaled pada sidang akhbar selepas mempengerusikan mesyuarat pasca-Kabinet kementeriannya di sini.

    Angka terkini peminjam PTPTN peringkat diploma dan ijazah sarjana muda adalah sebanyak 1.04 juta manakala 2,473 lagi merupakan peminjam ijazah sarjana dan kedoktoran dengan nilai pinjaman keseluruhan mencecah RM23 bilion.

    Sejak beberapa tahun lalu, persatuan-persatuan pelajar telah meminta kerajaan mengkaji semula kadar caj perkhidmatan pinjaman PTPTN yang dianggap membebankan selain dikaitkan dengan unsur riba.

    Bagaimanapun, pada 28 Julai lalu, Jawatankuasa Muzakarah Fatwa Kebangsaan memutuskan caj perkhidmatan itu tidak menyalahi syarak tetapi mahu kadar caj tiga peratus sedia ada diturunkan bagi meringankan beban pelajar.

    Sebelum ini, caj perkhidmatan yang dikenakan PTPTN ialah empat peratus pada 1997 sebelum ia diturunkan kepada tiga peratus berasaskan baki yang berkurangan.

    Para pelajar diberikan tempoh antara lima hingga 20 tahun bagi membayar semula pinjaman bergantung pada jumlah pinjaman yang diperoleh.

    Bagaimanapun, sebanyak 49 peratus daripada mereka masih gagal membayar balik pinjaman yang berjumlah hampir RM708 juta.

    Menurut Mohamed Khaled, permohonan pelajar baru yang memohon pinjaman sebelum sistem baru itu dilaksanakan akan diluluskan mengikut kaedah sedia ada dengan pelarasan dilakukan sebaik sahaja sistem baru siap dibangunkan menjelang hujung tahun ini.

    Beliau berkata, bagi peminjam sedia ada dan mereka yang telah tamat pengajian, kaedah pengiraan bayaran pinjaman ialah jumlah terhutang selepas 1 Jun akan didarabkan dengan satu peratus atas baki tempoh bayaran balik.

    Sejajar dengan keputusan tersebut, katanya, dokumen surat tawaran perjanjian baru akan diedarkan kepada para peminjam sedia ada dan mereka yang telah tamat pengajian pada tahun lepas.

    “Mereka diberikan tempoh selama sebulan dari tarikh surat tawaran untuk melengkapkan dokumen perjanjian baru dan memulangkan semula kepada PTPTN sebelum kadar baru dilaksanakan.

    “Kalau mereka tidak menandatangani surat perjanjian baru itu, mereka akan terus dikenakan caj perkhidmatan mengikut kadar sedia ada,” katanya.

    Mohamed Khaled memberitahu, peminjam yang tidak pernah membuat pembayaran balik pula akan dikenakan denda sebanyak satu peratus berdasarkan jumlah hutang tertunggak sebelum pelarasan dibuat bermula Jun lalu melibatkan kadar caj baru sebanyak satu peratus.

    “Ekoran keputusan menurunkan kadar caj kepada satu peratus, kerajaan juga sedang mengkaji kemungkinan untuk menumpukan pembiayaan pendidikan di peringkat sarjana, doktor falsafah dan profesional dalam bidang-bidang strategik sahaja,'' katanya.


    sumber dari utusan online...

    Wednesday, August 13, 2008

    sahabat

    kita takkan tahu bila kita akan sendiri...
    bila kita duduk diam...
    kita akan sedar...kita memerlukannya.....bukan tanpa cinta sahaja kita akan rasa apa itu sepi....tapi...tanpa...mereka...aku boleh termanggu tanpa seribu kata.......
    bukan mudah hendak kita kenal...tapi tak la semudah untuk kenal mereka..
    sayang mereka suama seperti telah lama ku kenal..
    SEDANGKAN IANYA BARU BERMULA...
    Related Posts with Thumbnails